Banjir di Manggilang, Berada di Seputaran Lokasi Tambang

Peta Nagari Manggilang yang ambil dari Google Maps. Dari atas, terlihat bekas-bekas aktifitas tambang

50 KOTA,- Bencana banjir di Nagari Manggilang, meninggalkan luka yang mendalam terhadap warga setempat. Banjir terjadi pada Kamis (29/4) malam itu, air dari  aliran sungai Batang Manggilang berangsung-angsur naik ke permukaan hingga merendam rumah warga disana.

Air keruh dan mengalir kencang, menyebabkan 50 unit rumah warga mengalami rusak berat. Bagian belakang hunian warga setempat, hilang setelah diterjang luapan  aliran air sungai Manggilang. Hewan peliharaan warga pun, banyak  dihanyutkan arus banjir sungai Manggilang.

Aliran banjir yang terbilang sangat kuat itu, sudah menerjang bangunan kuat bagian belakang rumah -rumah warga, dari dapur, kamar mandi serta beberapa kamar tidur bagian belakang, semuanya hilang. “Ada 50 unit rumah yang mengalami rusak berat. Perabotan rumah tangga, alat dapur, kasur serta alat elektronik banyak terendam sampai dibawa arus banjir,” kata Walinagari Manggilang Ridwan pada Jumat (30/4) siang.

Diceritakan Ridwan, meluapnya sungai Batang Manggilang, terjadi setelah hujan deras yang mengguyur sepanjang Kamis (29/4) sore. Menjelang waktu berbuka puasa datang, air terus meluap dan merendam setidaknya 141 rumah warga disana.

Ketinggian airpun bervariasi, dari serendah  tumit bayi hingga setinggi dada orang dewasa, mencapai 1 meter lebih. Air yang merendam, terjadi dalam waktu beberapa jam. Hingga tengah malam, air pun mulai surut. Lumpur-lumpur yang terbawa arus banjir, mengendap sampai didalam rumah warga. Kata Walinagari, kerugian banjir di Manggilang tersebut, diperkirakan mencapai Rp 1,5 Miliar.

Selain itu, lokasi banjir di Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru tersebut, berada seputaran lokasi pertambangan. Yaitu tambang batu andesit. “Pertambangan itu banyak, tapi yang jalan tidak banyak. Lokasi tambang ada sekitar 1 kilometer dari rumah penduduk,”kata Walinagari.

Diceritakannya, banjir parah yang melanda Manggilang, sudah pernah berkali-kali terjadi jauh sebelum tambang mulai beroperasi. “Banjir terparah terjadi pada tahun 1977, 2005, 2017 dan 2021 ini. Sedangkan tambang baru beroperasi pada 2011,”katanya.

Ketika walinagari ditanya, apakah ada pengaruh aktifitas tambang yang beroperasi selama ini  hingga menyebabkan banjirnya Nagari Manggilang tersebut, hal tersebut belum bisa dipastikannya. “Jarak tambang jauh-jauh, ada diperbukitan,”ucap Ridwan lagi. (TIM)