Tujuh Unsur Penunjang Museum Istano Basa Pagaruyung


OLEH : FERI MAULANA

Dari tujuh unsur yang berfungsi sebagai penunjang museum, posisinya terletak di luar bangunan utama. Tetapi berada di sekeliling Museum Istano Basa Pagaruyung, di samping, depan dan di belakang bangunan utama museum.

Tujuh Unsur tersebut diantaranya, surau. Fungsinya sebagai tempat salat, belajar, mengaji atau baca Alquran dan tempat tidur putra raja yang telah akhir baliq atau usia tujuh tahun ke atas. Selain itu surau juga tempat belajar Undang-undang adat, hukum syarak, sejarah, seni budaya dan beladiri. Posisi surau terletak di belakang istano. 


Kemudian unsur penunjang lainnya yaitu rangkiang patah sambilan. Posisinya berada di halaman istano, berfungsi untuk penyimpanan padi. 


Rangking juga sebagai simbol kemakmuran dan kekuasaan Alam Minangkabau.
Di rumah-rumah adat Minangkabau, rangkiang dibangun di depan  rumah sebanyak dua buah, masing-masing berbeda fungsi namun secara umum rangkiang digunakan tempat menyimpan padi.


Di Museum Istano Pagaruyung, semua rangkiang disatukan  rancang bangunannya, namun memiliki sembilan fungsi dan sembilan nama, di antaranya rangkiang ditinjau lauik, gunanya tempat menyimpan harta. Lalu rangkiang mandah pahlawan, gunanya untuk pertahanan. Rangkiang harimau pauni koto, gunanya untuk menyimpan kekayaan untuk pembangunan nagari.

Rangkiang sitangka lapa yang berguna untuk sosial. Rangkiang kapuak garuik labiah, gunanya untuk urang sumando atau suami dari anak perempuan. Rangkiang kapuak galuak bulan basandiang, untuk menyimpan kekayaan keperluan penghulu. Rangkiang kapuak gadiang bapantang luak yang gunanya untuk penyimpanan kekayaan kebutuhan sehari-hari. Rangkiang kapuak kaciak simajo kayo, untuk orang muda sebagai menjaga moral dan keperluan lainnya.

  
Unsur lain yaitu tanjuang mamutuih, posisinya sebelah kanan museum, dan terdapat sebuah pohon beringin yang dilingkari bebatuan di sekelingnya. Lokasi ini tempat bermain anak raja, seperti main layang-layang dan sepak tekong.


Pincuran tujuah, ini terletak di belakang dapur, tempat pemandian keluarga raja. Tapian tampek mandi atau pemandian ini memiliki tujuh buah pancuran.


Tabuah larangan, gabuang atau yang dikenal dengan nama bedug merupakan sebuah gendang yang dibuat dari kulit sapi atau kulit kambing, digunakan sebagai penanda masuknya waktu solat. Juga sebagai sarana penyampaian pengumuman atau pemberitahuan pada masyarakat.


Taman museum Istano Basa Pagaruyung, ini melambangkan semua potensi dan fasilitas daerah Minangkabau agar tampil lebih dikenal, lebih dihormati, lebih dikagumi, lebih cemerlang, lebih potensial dan lebih berdayaguna dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara karena fasilitas itu memperindah Minangkabau dalam arti luas.


Tango, juga disebut umbul-umbul yang fungsinya sebagai tanda mata pelengkap atau cendera mata raja pada tamunya. Jika pada unsur miniak-mamak, Raja akan memberi tango berwarna hitam, untuk alim ulama warna putih, untuk unsur laskar berwarna kuning emas, untuk raja kecil berwarna kuning muda, dari unsur pejabat tango warna ungu.


Sumber : Efrison, Kepala Bidang Pariwisata Disparpora Tanah Datar.