Miris, Ternyata Masih Ada Warga Miskin di 50 Kota Hidup Sendirian Dalam Gubuk Reok

LAPORAN : ADY PACKER

Di zaman maju seperti sekarang ini, masih ada juga warga yang hidup dan tinggal di gubuk reok. Begitulah yang dialami seorang ibu paruh baya di Kecamatan Luhak, Kabupaten 50 Kota. Nurjana, hidup di rumah bambu dengan ukuran 2×2 meter persegi. Kondisi ibu tua yang sebatang kara tersebut memprihatinkan. Dengan kondisi ekonomi yang keterbatasan sehingga dirinya terpaksa menggantungkan hidup dari uluran tangan tetangga sekitar.

Kondisi gubuk dari warga Jorong Subaladuang, Nagari Sungai Kamuyang itu hanya berlapis dinding bambu. Untuk tidurpun, wanita tua itu terpaksa diatas tumpukan kayu yang padat dan keras.

Nyaris tidak ada perabotan rumah tangga yang layak, selain panci untuk sekedar merebus air dan menanak nasi dengan tungku batu bata.

Nurjani hidup seorang diri sejak ditinggal suami meninggal dunia beberapa tahun silam. “Sudah 10 tahun lebih rumah ini di tempati,” kata Nurjani kepada awak media.

Terkait kondisi tersebut, LSM pun ikut prihatin. Seperti Bambang Heri Ketua LSM Sago Peduli. Bambang bersama anggota LSM lainnya datang ke lokasi untuk melihat kondisi dari Nurjani.

“Kami prihatin, sangat tersentuh hatinya melihat kondisi tempat tinggal beliau yang hanya berukuran 2×2 meter. Dengan usia sudah 80, dirinya tak mampu bekerja secara normal karena sudah lanjut usia dengan umur yang sekarang. Karena itu, kami pun berupaya mencari solusi untuk Nurjani,” ujarnya.

Kata Bambang, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, Nurjani mengaku hanya mengandalkan uluran tangan dari tetangga dan para perangkat desa yang peduli.

Sedangkan Walinagai Sungai Kamuyang Dedi Sunardi mengatakan, Nurjani dulunya sempat dibawa suami untuk menetap di Sungai Kamuyang. Selama berumah tangga, mereka dikarunia 2 orang anak.

“Berdasarkan penyampaian perangkat nagari bantuan sosial dan ekonomi sudah pernah disalurkan. Pihak nagari akan berupaya memperjuangkan rumah yang tidak layak huni ini,” kata Dedi Sunardi.

Di perkampungan yang sama, tinggal di gubuk reok tidak hanya dialami oleh Nurjani saja. Ada warga lain dengan nasib yang sama. Yakni Asril (67).

Rumah bapak tua tersebut sangat memperihatinkan. Rumah yang hanya berlantai tanah dan dinding plastik dengan tempat masak terbuka. Kondisi rumah Asril setelah terbakar hanya tidur beralaskan papan dan dinding plastik.

Salah seorang tokoh setempat sekaligus pengurus mesjid, Surya membenarkan kalau Asril cuma hidup seorang diri dan tinggal di gubuk yang cuman berdindingkan plastik dengan ukuran sangat kecil. (*)