Museum Istano Basa Pagaruyung, Jejak Kejayaan Konfederasi Tigo Luhak

OLEH : FERI MAULANA

Lunak nan tigo yang dikenal daerah segi tiga di Minangkabau, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Agam, 50 Kota, dan Tanah Datar, tiga daerah ini sebagai poros awal penyebaran kebudayaan Minangkabau. Tinjauan sejarah mempercayai ketiga daerah yang pada masa lampau berjuluk ‘luhak nan tigo’ ini merupakan pemukiman awal dari masyarakat Minangkabau atau disebut pula wilayah darek (daratan).

Di wilayah ini pula, pada masa lalu berdiri sebuah pemerintahan konfederasi, disebut Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan yang terbentuk dari gabungan nagari-nagari ini runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda saat perang Padri bergejolak.

Salah satu peninggalan sejarah yang masih tersisa dari eksistensi kekuasaan Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah Museum Istana Basa Pagaruyung yang terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Museum Istano Basa Pagaruyung yang berarti istana besar Kerajaan Pagaruyung.

Sesuai dengan namanya, istana ini mengabadikan kemegahan arsitektur dari pusat pemerintahan kerajaan. Meskipun wujud yang berdiri megah sekarang ini bukanlah bangunan aslinya, namun berbagai detail ciri khas arsitektur yang dimilikinya masih sama seperti kondisinya pada masa lampau.

Museum Istano Basa Pagaruyung dahulu merupakan kediaman dari Raja Alam, sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk ‘Rajo Tigo Selo’. Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, Lintau, serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Kedua wakil ini memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama. Tetapi, jika suatu permasalahan tidak terselesaikan, barulah Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan menyelesaikannya.

Istana ini memang merupakan replika dari bangunan asli yang dibakar Belanda pada 1804. Bangunannya berbentuk sebuah rumah panggung berukuran besar dengan atap gonjong yang menjadi ciri khas dari arsitektur tradisional Minangkabau. Rumah panggung besar ini bertingkat tiga, dengan 72 tonggak sebagai penyangga utamanya. Terdapat 11 gonjong atau pucuk atap yang menghias bagian atas dari bangunan ini. Seluruh dinding bangunannya dihiasi ornamen ukiran berwarna-warni yang terdiri dari jenis motif yang berbeda.

Sebagai sebuah istana kerajaan, masing-masing tingkat dalam bangunan ini memiliki fungsi berbeda. Tingkat paling bawah merupakan tempat aktivitas utama pemerintahan berupa sebuah ruang besar yang melebar dengan area khusus sebagai singgasana raja di bagian tengahnya. Di sisi kiri dan kanan ruangan terdapat sebuah ruangan kamar. Di bagian belakang singgasana terdapat tujuh buah kamar sebagai tempat bagi para putri raja yang telah menikah.

Tingkat kedua dari bangunan merupakan ruang aktivitas bagi para putri raja yang belum menikah. besarnya ruangan ini sama dengan besar ruangan utama di bawahnya. Ruangan atas, merupakan tempat raja dan permaisuri bersantai serta tempat melihat kondisi di sekitar istana. Ruangan ini disebut anjung peranginan, yang posisinya terletak tepat dibawah atap gonjong yang berada di tengah bangunan atau disebut juga gonjong mahligai. Di ruangan ini terdapat sejumlah koleksi senjata pusaka asli kerajaan yang masih tersisa, di antaranya tombak, pedang, dan senapan peninggalan Belanda.

Bangunan asli dari istana ini awalnya berlokasi di Bukit Batu Patah. Setelah insiden tahun 1804 istana ini didirikan kembali, tetapi terbakar habis pada 1966. Pada 27 Desember 1976 upaya rekonstruksi ulang kembali dilakukan dengan ditandai peletakan tonggak tuo (tiang utama) oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain. Istana ini dibangun kembali di lokasi baru di sisi selatan bangunan asli, yaitu di lokasinya saat ini.

Lalu pada 27 Februari 2007, istana ini kembali terbakar akibat tersambar petir. Upaya pembangunan kembali berlangsung antara 2008-2012 dengan menelan dana lebih dari Rp.20 miliar. Arsitektur aslinya tetap dipertahankan meskipun sebagian besar peninggalan barang berharga di dalamnya musnah dan hanya tersisa sekitar 15 persen.

Sumber : Ardee/IndonesiaKaya.